Makalah SPN

Standar

PERAN PEMERINTAH YOGYAKARTA DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI DI BIDANG PARIWISATA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Sistem Perekonomian Negara

Dosen Pengampu : Wijianto Spd.

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh :

Windah Rahmawati

K6410064

 

 

PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2012

KATA PENGANTAR

 

 

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “PERAN PEMERINTAH DAERAH YOGYAKARTA DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI DI BIDANG PARIWISATA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA”

Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas mata kuliah Sistem Perekonomian Negara. Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan – kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak – pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada :

  1. Bpk Wijianto SPd  selaku dosen Pembimbing mata kuliah Sistem Perekonomian Negara.
  2. Rekan – rekan prodi PKN 2010.
  3. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dalam penulisan makalah ini.

 

 

Surakarta,        Maret 2012

 

 

                                                                                                                         Penulis

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Memasuki abad ke-21, dinamika pengembangan wilayah di Indonesia dihadapkan pada fenomena globalisasi. Kecenderungan perdagangan global, kemajuan teknologi dan informasi serta perubahan sistem kemasyarakatan yang demokratif, mandiri, terbuka, dan inovatif membawa dampak yang besar bagi perekonomian Indonesia. Disatu pihak, globalisasi  yang diikuti dengan liberalisasi perdagangan pasti akan memberi banyak peluang bagi semua usaha di semua sektor, namun dilain pihak perubahan sistem perdagangan tersebut juga akan menciptakan tantangan-tantangan persaingan baru yang apabila perekonomian nasional gagal untuk menembus persaingan regional dan global maka dapat dipastikan Indonesia akan mengalami kerugian ekonomi yang signifikan (Alkadri,2001).

Sebagai upaya utuk menembus persaingan pasar global, pemerintah memberlakukan otonomi daerah dengan memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menetapkan berbagai kebijakan yaitu dengan UU No.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No.25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Melalui otonomi daerah tersebut setiap daerah di Indonesia dituntut untuk dapat mengembangkan setiap potensi lokal yang dimilikinya agar dapat bertahan dan berkembang ditengah persaingan regional maupun global.

Secara implisit, hal tersebut berarti pembangunan ekonomi suatu wilayah lebih mengarah pada pendekatan yang berorientasi pada pengembangan sumberdaya lokal yang merupakan faktor-faktor endogen wilayah tersebut secara optimal.

Untuk menjawab tantangan persaingan global, pengembangan ekonomi lokal perlu diaraahkan untuk mendukung perkembangan sektor-sektor ekonomi yang berpotensi menciptakan kesempatan kerja yang luas dan memiliki prospek yang baik dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat  di suatu wilayah. Beranjak dari pemikiran itu maka penulis memilih sektor pariwisata sebagai sektor yang berpotensi besar dalam pengambangan ekonomi wilayah khususnya Yogyakarta terutama sebagai daerah tujuan wisata terbesar setelah Bali, serta mengenai peran pemerintah Yogyakarta dalam mengembangkan perekonomian daerah Yogyakarta melalui sektor pariwisata. Dan untuk itu penulis menyusun makalah yang berjudul “PERAN PEMERINTAH DAERAH YOGYAKARTA DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI DI BIDANG PARIWISATA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA”.

 

  1. Rumusan Masalah
  2. Bagaimana potensi obyek pariwisata di daerah Yogyakarta sebagai salah satu sektor yang dapat dikembangkan guna membangun perekonomian daerah?
  3. Bagaimana peran pemerintah daerah Yogyakarta dalam membangun perekonomian di Yogyakarta melalui sektor pariwisata yang dimiliki?

 

  1. Tujuan
  2. Mengetahui potensi obyek pariwisata di daerah Yogyakarta sebagai salah satu sektor yang dapat dikembangkan guna membangun perekonomian daerah.
  3. Mengetahui peran pemerintah daerah Yogyakarta dalam membangun perekonomian di Yogyakarta melalui sektor pariwisata yang dimiliki.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Potensi Pariwisata di  Daerah Yogyakarta

Daerah Istimewa Yogyakarta adalah Daerah Istimewa setingkat Provinsi di Indonesia yang meliputi Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Paku Alaman. Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa bagian tengah dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan Samudera Hindia. Daerah Istimewa yang memiliki luas 3.185,80 Km ini terdiri atas satu kota dan empat kabupaten,yaitu Kabupaten Gunung Kidul, Kulon Progo, Sleman dan Bantul, dan satu kota Madya daerah tingkat II yang terbagi lagi menjadi 78 kecamatan dan 438 desa/kelurahan. Menurut sensus penduduk 2010 memiliki jumlah penduduk 3. 452. 390 jiwa dengan proporsi  1. 705.404 laki-laki dan 1. 746. 986 perempuan, serta memiliki kepadatan penduduuk sebesar 1.084 jiwa per km.

Penyebutan nomenklatur Daerah Istimewa Yogyakarta yang terlalu panjang, menyebabkan sering terjadinya penyingkatan nomenklatur menjadi DI Yogyakarta atau DIY. Daerah Istimewa ini sering diidentikkan dengan kota Yogyakarta sehingga secara kurang tepat disebut Yogja, Yogya, Yogyakarta.walaupun memiliki luas terkecil kedua setelah provinsi DKI Jakarta, Daerah Istimewa ini terkenal di tingkat nasional dan internasional. Daerah Istimewa Yogjakarta menjadi tempat tujuan wisata andalan setelah provinsi Bali.

DIY terletak di bagian tengah-selatan Pulau Jawa, secara geografis terletak pada 703`-8012` Lintang Selatan dan 110000`-110050` Bujur Timur. Berdasarkan bentang alam, wilayah DIY dapat dikelompokkan menjadi empat satuan fisiografi, yaitu satuan fisiografi Gunung Merapi, satuan fisiografi Pegunungan Selatan atau Pegunungan seribu, satuan fisiografi  Pegunungan Kulon Progo, dan satuan fisiografi Dataran rendah.

Kondisi fisiografi tersebut membawa pengaruh terhadap persebaran penduduk, ketersediaan sarana dan prasarana wilayah, dan kegiatan sosial ekonomi penduduk, serta kemajuan pembangunan antar wilayah yang timpang. Daerah-daerah yang relatif datar seperti wilayah dataran fluvial yang meliputi Kabuten Sleman, kota yogyakarta, dan Kabupatan Bantul (khususnya di wilayah aglomerasi pperkotaan Yogyakarta) adalah wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi dan memiliki kegiatan sosial ekonomi berintensitas tinnggi, sehingga merupakan wilayah yang lebih maju dan berkembang.

Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta antara lain meliputi sektor Innvestasi, Perindustrian, Perdagangan, Koperasi UKM, Pertanian, Ketahanan Pangan, Kehutanan dan perkebunan, perikanan dan Kelautan, Energi dan Sumber Daya Mineral, serta Pariwisata.

Berbicara mengenai Pariwisata di Yogyakarta, pariwisata merupakan sektor utama bagi DIY. Banyaknya objek dan daya tarik wisata di DIY telah menyerap kunjungan wisatawan, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Pada 2010 tercatat kunjungan wisatawan sebanyak 1.456.980 orang,dengan rincian 152.843 dari mancanegara dan 1.304.137 orangdari nusantara. Bentuk wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition), wisata budaya, wisata alam, wisata minat khusus dan berbagai fasilitas wisata lainnya, seperti resort, hotel, dan restoran.

Tercatat ada 37 hotel berbintaang dan 1.011 hotel melati di seluruh DIY pada 2010. Adapun penyelenggaraan MICE sebanyak 4.509 kali per tahun atau sekitar 12 kali per tahun. Keanekaragaman upacara keagamaan dan budaya dari berbagai agama serta didukung oleh kreatifitas seni dan keramahtamahan masyarakat, membuat DIY mampu menciptakan produk-produk budaya dan pariwisata yang menjanjikan. Pada tahun 2010 terdapat 91 desa wisata dengan 51 diantaranya yang layak dikunjungi. Tiga desa di daerah Sleman hancur terkena erupsi Gunung Merapi  sedang 14 lainnya rusak ringan.

Secara geografis, DIY juga diuntungkan oleh jarak antara lokasi obyek wisata yang terjangkau dan mudah ditempuh. Sektor pariwisataa sangat signifikan menjadi motor kegiatan perekonomian perekonomian DIY yang secara umum bertumpu pada tiga sektor andalannya yaitu, jasa-jasa, hotel dan restoran serta pertanian.

Dalam hal ini pariwisata memberi efek penggandaan(multiplier effect) yang nyata bagi sektor perdagangan disebabkan meningkatnya kunjungan wisatawan. Selain itu, penyerapan tenaga kerja dan sumbangan terhadap perekonomian daerah sangat signifikan.

Berikut adalah beberapa obyek wisata dan kuliner yang dimiliki Yogyakarta sebagai aset berharga dalam mengembangkan perekonomian daerah, yaitu meliputi kawasan Malioboro, Kebun Binatang Gembira Loka, Istana Air Taman Sari, Monumen Jogja Kembali, Museum Keraton Yogyakarta, Museum Sonobudoyo, Lereng Merapi, Pemakaman Imogiri, Kaliurang, Pantai Parangtritis, Pantai Baron, Pantai samas, Goa Selarong, Candi Prambanan, Candi Kalasan, Kraton Ratu Boko, Pasar Seni gabusan Bantul, Kerajinan Kulit Manding Bantul, Angkringan dengan menu khas mahasiswa, Bakmi godhog di Pojok Beteng, Sate Kelinci di Kaliurang dan jadah mbah carik, Sate Karang Kotagedhe, Sego Abang Njirak Gunung Kidul, Sate Klathak Wonokromo, Bakmi Pundong atau mie Jawa, Bakmi pak Mo Code Bantul, Bakmi Gilang Bantul.

Selain aset wisata dan kuliner tersebut, DIY juga memiliki beragam potensi budaya, baik budaya yang tangible (fisik) maupun yang intangible (non fisik). Potensi budaya yang tangible antara lain kawasan cagar budaya dan benda cagar budaya, sedangkan potensi budaya yang intangible seperti gagasan, sistem nilai atau norma, karya seni, sistem sosial, atau perilaku sosial yang ada dalam masyarakat. DIY memiliki tidak kurang dari 515 Bangunan Cagar Budaya yang tersebar di 13 Kawasan Cagarr Budaya. Keberadaan aset-aset budaya peninggalan peradaban tinggi masa lampau tersebut dengan kraton sebagai institusi warisan adiluhung yang masih terlestari keberadaannya, merupakan embrio dan memberi spirit bagi tumbuhnya dinamika masyarakat dalam berkehidupan kebudayaan terutama dalam berseni budaya dan beradat tradisi. Selain itu, provinsi DIY juga mempunyai 30 Museum, yang dua diantaranya yaitu museum Ullen Sentalu dan museum Sonobudoyo diproyeksikan menjadi museum Internasional. Pada 2010, persentase benda cagar budaya tidak bergerak dalam kategori baaik sebesar 41,55%, sedangkan kunjungan ke museum mencapai 6,42%.

Dengan potensi pariwisata dan budaya yang dimiliki oleh daerah Yogyakarta merupakan aset yang sangat berharga terutama guna untuk meningkatkan perekonomian daerah di Yogyakarta. Tentunya tidak lepas dari peran masyarakat Yogyakarta dan juga pemerintah daerah Yogyakarta,serta kerjasama dari berbagai pihak untuk mengembangkan potensi tersebut semaksimal mungkin.

Pengembangan pariwisata di daerah Yogyakarta tentunya membawa dampak terhadap kehidupan masyarakat, terutama masyarakat di sekitar objek-objek wisata.  Dampak yang ditimbulkan seperti pengaruh pada perubahan-perubahan sosial. Dampak dari pengembangan pariwisata itu bisa negatif dan menguntungkan atau positif tergantung dari sudut pandang mana.

Pada hakekatnya pengembangan pariwisata merupakan kegiatan ekonomi untuk memperbesar penerimaan devisa, memperluas, dan meratakan kesempatan berusaha dan membuka lapangan kerja terutama untuk masyarkat sekitar. Bagi pemerintah daerah, berkembangnya pariwisata yang disertai dengan datangnya atau kunjungan wisatawan yang mau tinggal lama merupakan keuntungan tersendiri. Karena pemasukan devisa akan meningkat dan melebihi target.

 

  1. Peran Pemerintah Daerah dalam Mengembangkan Perekonomian di Yogyakarta melalui Sektor Pariwisata.

Berkembangnya pariwisata di Yogyakarta tidak lepas dari beragamnya jenis obyek wisata yang ada, keterbukaan masyarakat Yogyakarta, serta peran pemerintah dalam mendukung tumbuhnya industri pariwisata di kota Yogyakarta.

Sarana dan prasarana akomodasi yang lengkap juga mendukung kegiatan pariwisata di Yogyakarta. Jumlah hotel di Yogyakarta sampai dengan tahun 2007 berjumlah 302 hotel bintang dan 323 hotel non bintang. Kegiatan usaha pendukung pariwisata juga lengkap. Sampai tahun 2007 terdapat 58 biro perjalanan dan 540 pramuwisata berlisensi, 70.000 industri kerajinan tangan, fasilitas transportasi yang lengkap, tempat penukaran uang (Money Changer), berbagai industri jasa boga serta keamanan khusus wisata yang disebut Bhayangkara Wisata.

Pemerintah Yogyakarta juga aktif dalam mendukung dan mengadakan even-even yang mendukung pariwisata di Yogyakarta antara lain even berskala Internasional Jogja Java Carnival, Sekaten, Festival Kesenian Yogyakarta (FKY), dan vestifal seni Biennale. Jogja Java Carnival merupakan even puncak acara HUT Kota Yogyakarta. Berbagai penghargaan dalam bidang pariwisata pun telah diraih kota Yogyakarta. Kota Yogyakarta telah menerima ITA (Indonesian Tourism Award) pada tahun 2009 sebagai “Favorite Cities” dan “cities with the best service” pada tahun 2009 dan 2010.

Berdasarkan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah  daerah Yogyakarta Bab II pada visi pemerintah daerah dalam mendukung visi pembangunan daerah yang akan dicapai tahun 2020 yang menjadi gambaran ideal tentang RENSTRA tahun 2004-2008 ialah “Mantapnya Pemerintah Daerah yang katalistik dan mendukung terbentuknya masyarakaat kompetitif”.

Pemerintah yang katalistik artinya adalah bahwa dalam peran barunya pemerintah akan lebih diarahkan sebagai pengatur  dan pengendali daripada sebagai pelaksana langsung suatu urusan dan layanan. Hal ini di dasarkan kepada pengalaman bahwaa jika urusan-urusan yang dapat diselenggarakan oleh sendiri oleh masyarakaat, tetap diselenggarakan oleh pemerintah  akan menimbulkan ketergantungan kepadaa pemerintah, sehingga kreativitas dan semangat inovasi  masyarakat maupun individu anggota masyaarakat menjadi lemah.

Dengan peranan yang baru ini Pemerintah Daerah lebih banyak memberi peluang kepada para pelaku sektor swasta dan masyarakat untuk bersama-sama memikul suatu tanggungjawab atau urusan dengan cara memberikan kesempatan dan mendorong masyaraakat dan dunia usaha melalui regulasi, fasilitas dan pelayanan (Public Services) agar dapat mengembangkan kreativitas dan inovasinya sehingga dapaat memberdayakan potensi daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun demikian urusan-urusan yang belum dapat diselenggarakan oleh masyarakat tetap harus diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah.

Dengan menonjolkan fungsi pengarahan daripada pelayanan langsung, maka struktur organisasi birokrasi yang dibutuhkan adalah struktur yang efisiendengan fungsi yang efektif, namun mmpunyai peranan yang kuat melalui pengaturan dan ketetapan pengambilan kebijakan dan keputusan yang dikeluarkan serta mempunyai kemampuan untuk menetapkan prioritas program yang dijalankan. Dalam prioritas pembangunan tahun 2008 juga disebutkan mengenai pembangunan Budaya dan Pariwisata Yogyakarta, disitu terdapat kebijakan-kebijakan yang dapaat dilakukan untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan.

Dengan melihat penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwa sesuai yang dikatakan oleh Lincolin Arsyad (2000), bahwa ada empat peran yang dapat diambil oleh pemerintah daerah dalam proses pembangunan ekonomi di daerah ,yaitu sebagai :

  1. Entepreneur
  2. Koordinator
  3. Fasilitator
  4. Stimulator.

Dan pemerintah daeraah Yogyakaarta telah melakukan beberapa peran dalam membangun perekonomian melalui sektor pariwisata yang dimiliki, yaitu dengan membuat kebijakan-kebijakan seputar pariwisata serta memberi pengarahan kepada masyarakat (Koordinator),  membangun sarana-sarana penunjang paariwisata (fasilitator). Peran-peran tersebut dapat ditemukan secara implisit dalam peraturan-peraturan(seperti dalam peraturan Mandala Wisata) dan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah daerah Yogyakaarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Dari bab pembahasan diatas dapat kita simpulkan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai daerah tujuan wisata kedua setelah Bali mempunyai potensi yang luarbiasa untuk dikembangkan guna membangun perekonomian daerah Yogyakarta.

  Potensi pariwisata yang dimiliki oleh DIY akan memberi banyak manfaat bagi kemajuan daerah khususnya di bidang ekonomi. Disamping itu untuk meningkatkan potensi ini diperlukan kerjasama dari berbagai pihak terkait seperti pemerintah daerah, dinas pariwisata, maupun masyarakat.

Pemerintah baik sebagai entrepreneur (menjalankan usaha), Koordinator (penetapan kebijakan-kebijakan), fasilitator (Menyiapkan sarana prasarana penunjang), Stimulator (tiindakan-tindaakan khusus untuk mempengaruhi dunia usaha) harus mampu memanfaatkan potensi yang ada semaksimal mungkin.

 

  1. Saran
    1. Pemerintah  sebagai penggerak utama dalam memajukan perekonomian daerah Yogyakarata hendaknya mampu memanfaatkan peluang yang ada semaksimal mungkin dari sektor pariwisata yang dimiliki ini.
    2. Masyarakat juga hendaknya ikut berperan aktif dan saling mendukung dalam mencapai pembangunan perekonomian daerah Yogyakarta melalui sektor pariwisata ini.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://eprints.undip.ac.id/4471/1/elisaTA.pdf,  Diunduh Tanggal 25 Maret 2012, Pukul 13.20 WIB.

http://sidikaurora.wordpress.com/2011/04/07/pembangunan-ekonomi-daerah/ , Diunduh Tanggal 25 Maret 2012, Pukul 13.26 WIB.

http://eprints.undip.ac.id/16524/1/ARIS_SUPRAPTO.pdf, Diunduh Tanggal 25 Maret 2012, Pukul 13.30 WIB.

http://palembang.tribunnews.com/2012/02/09/peranan-wisata-dalam-pembangunan-daerah , Diunduh Tanggal 25 Maret 2012, Pukul 13.40 WIB.

http://dppka.jogjaprov.go.id/document/BAB%20II_RPJMD.pdf , Diunduh Tanggal 26 Maret 2012, Pukul  15.14 WIB.

http://www.jogjakota.go.id/app/modules/banner/images/1222102800_volume2.pdf , Diundu Tanggal 27 Maret , Pukul 15.40 WIB.

http://www.gudeg.web.id/investasi/index.php?option=com_content&view=article&id=191&Itemid=265 , Diunduh Tanggal 27 Maret 2012, Pukul 15.48 WIB.

http://ephiar.blogspot.com/2011/12/peranan-objek-wisata-yogyakarta-dalam.html , Diunduh Tanggal 27 Maret 2012, Pukul 15.55 WIB.

http://id.wikipedia.org/wiki/Daerah_Istimewa_Yogyakarta , Diunduh Tanggal 27 Maret 2012, Pukul  16.12 WIB.

http://www.jogjakota.go.id/app/modules/upload/files/dok-perencanaan/10-Jurnal-Penelitian4.pdf , Diunduh Tanggal 27 Maret 2012, Pukul 16.20 WIB.

 

 

 

 

 

 

 

 Image

About Windah Rahmawati

I am a Simple Person ^^ Anak Ciciv Education di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Anak ke empat dari empat bersaudara, Kata orang si Aku yang paling manja :D Cantik? Jelaaas dong ^^ Pinter? Ga kalah pinter deh ama Thomas Alfa Edison #Padahal ngga tahu siapa dia Heee Kocak? Cukup sering bikin orang lain tertawa Riang :D Kadang ngeselin juga si :D Jayus? Soo pasti. Aku paling nggak tega Kalau harus lihat bapak-bapak tua renta yang harus bekerja banting tulang di pinggir jalan :( Mimpi? Banyak mimpi yang ingin kugapai, So harus dibarengi usaha dan Doa tentunya :) ORTU? LOVE THEM FOR EVER :* Do the Best For the Best ^^ Masih banyak Lagi tentang Aku :D

Komentar ditutup.