TUGAS REVIEW

HUBUNGAN INTERNASIONAL SEBAGAI SUBYEK AKADEMIK

 

 

 

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Hubungan Internasional

Dosen Pengampu : Muh.Hendri N SPd,MSc

Disusun oleh:

Windah Rahmawati

K6410064

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN  ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

 

Hubungan internasional berkembang sejak menjadi subyek akademik sekitar perang dunia pertama. Pendekatan-pendekatan teoritis merupakan produk di jamannya. Penegasan masalah-masalah hubungan internasional dipandang sebagai yang terpenting pada saat itu. Tradisi-tradisi yang mapan berhadapan dengan masalah internasional yang sangat penting , meliputi perang dan damai, konflik dan kerjasama, kekayaan dan kemiskinan, pembangunan serta keterbelakangan. Dalam bab ini dikaji empat tradisi HI yang mapan yang meliputi realisme, liberalisme, Masyarakat Internasional, dan Ekonomi Politik Internasional(EPI), serta  dijelaskan mengenai beberapa pendekatan alternatif baru yang menantang trdisi yang telah mapan.

Hubungan Internasional sebagai subyek akademik yang berkembang mempunyai banyak teori yang berbeda-beda. Teori-teori tersebut merupakan alat analisis yang dibuat untuk mencapai kesimpulan dan kejelasan, teori-teori tersebut bukanlah suatu kebenaran obyektif yang dapat diterima begitu saja. Tentu pemikiran HI dipengaruhi oleh subyek-subyek akademik lain seperti filsafat, sejarah, hukum, sosiologi, ataupun ekonomi.

Pemikiran HI juga menjawab perkembangan historis dan kontemporer dalam dunia nyata. Dua perang dunia, perang dingin, dan perkembangan yang berlarut-larut antara negara utara dan selatan merupakan contoh masalah-masalah dan kejadian dunia nyata yang telah menggerakkan keilmuan HI di abad keduapuluh.

Ada tiga perdebatan besar sejak perkembangan HI menjadi subyek akademik di akhir perang dunia pertama, dan sekarang kita berada diawal tahap keempat.Keempat perdebatan tersebut adalah:

  1. Perdebatan antara liberalisme utopian dan realisme.
  2. Pendekatan tradisional dan behaviourisme.
  3. Neorealisme/ neoliberalisme dan neomarxisme.
  4. Perdebatan antara tradisi yang telah mapan dan alternatif-alternatif kaum pasca positivisme(perdebatan sekarang ini).

Studi awal HI dimulai pada Liberalisme Utopian. Disini muncul disiplin baru HI dengan sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran liberal. Cara berpikir liberal memiliki dukungan politik yang solid dari negara yang paling kuat dalam sistem internasional. HI akademik berkembang pertama kali dan sangat kuat di dua negara demokratis liberal terkemuka, AS dan Inggris. Para pemikir liberal memiliki gagasan yang mereka anggap cemerlang dan mereka yakini dengan kuat tentang bagaimana menghindari bencana besar di masa depan, dan juga mereformasi struktur-struktur domestik negara-negara otokratis.

Dengan melihat penjelasan diatas, HI pada masa ini dirasa kurang memenuhi harapan dan lebih pesimistis. Hal itu dapat dilihat dari cara pemikiran mereka dalam menghadapi masalah yang akan timbul, mereka selalu memikirkan cara untuk menghindari bencana besar di masadepan,bukan malah mencari cara untuk menghadapi dan menyelesaikannya. Hendaknya pemikiran-pemikiran pesimis seperti ini dapat dihapuskan.

Idealisme liberal bukanlah petunjuk intelektual yang baik bagi Hubungan Internasional di tahun 1930an. Pemikiran HI liberal salah salah meniali fakta sejarah dan salah memahami sifat Hubungan Internasional.Mereka salah meyakini bahwa hubungan itu dapat didasarkan pada harmoni kepentingan antar negara-negara dari masyarakat. Sedang menurut realisme adalah bahwa pada dasarnya HI adalah tentang perjuangan antara kepentingan dan keinginan yang bertentangan seperti itu. Itulah mengapa HI selalu digambarkan sebagai konflik daripada kerjasama, bahwa dalam pemikiran ini kita harus menganggap adanya konflik kepentingan baik antarnegara maupun antar masyarakat. Karena sebagian mereka merasa memiliki kelebihan dari yang lain dan mereka berupaya mempertahankannya dan akan berjuang untuk mendapatkannya.

Hubunhhgan Internasional adalah perjuangan untuk kekuasaan dan untuk bertahan hidup. Kekuatan besar yang ingin berpegang pada apa yang mereka miliki. Jika mereka tidak memiliki kekuasaan maka mereka akan mencoba dan memperbaiki keseimbangan internasional melalui penggunaan kekuatan. Mengikuti analisis kaum realis, jawaban yang benar-benar tepat terhadap upaya seperti itu adalah pembentukan kekuatan penyeimbang dan pengguna kekuatan tersebut dengan cermat untuk menyiapkan pertahanan nasional dan menolak agresor potensial. Komponen penting ketiga dalam pandangan kaum realis adalah pandangan sejarah yang berulang. Kebalikan dari pandangan optimis kaum liberal bahwa perubahan kualitatif yang lebih baik adalah masuk akal, realisme menekankan kesinambungan dan pengulangan. Bagi kaum realis klasik, negara-negara merdeka dalam sistem internasional yang anarki adalah bentuk permanen Hubungan Internasional. Banyak kaum liberal mengakui bahwa realisme adalah petunjuk yang l;ebih baik bagi HI di tahun 1930an dan 1940an, walaupun kaum liberal menolak pemikiran kaum realis bahwa manusia “benar-benar buruk”.

Cara pembelajaran HI biasanya mengacu pada pendekatan tradisional atau klasik. Sedang penstudian HI baru, memiliki latarbelakang akademik yang sangat berbeda, pemikiran-pemikiran yang sangat berbeda dengan bagaimana HI seharusnya dipelajari. Pemikiran-pemikiran baru ini diringkas dalam istilah Behavioauralisme yang menandai tidak begitu banyak teori baru sebagai suatu metodologi baru yang diupaya untuk menjadi “Ilmiah” dalam pengertian ilmu alam dari istilah tersebut. Behavioralisme lebih tertarik pada fakta yang dapat diamati dan data yang dapat diukur, dalam perhitungan yang tepat, dan pengumpulan data agar mendapatkan pola perilaku yang berulang,”hokum-hukum” Hubungan Internasional.

Behaviouralisme mengangkat suatu pertanyaan mendasar yang terus didiskusikan hingga sekarang kita dapat memformulasikan hokum ilmiah tentang HUbungan Internasional.Behavioralisme melakukan sesuatu yang lebih abadi dampaknya dalam HI, hal itu sebagian besar disebabkan oleh disiplin itu setelah perang dunia kedua oleh para penstudi dari Amerika Serikaat yang mayoritas terbesar mendukung kuantitatif , ambisi ilmiah behavioralisme.

Tahun 1950,Proses integrasi regional sedang berjalan di eropa Barat yang memikat perhatian kaum neoliberal. Hal itu memberikan dasar bagi liberalisme sosiologis, yang merupakan aliran neoliberal yang menekankan dampak dari perluasan aktifitas lintas batas ini. Neoliberalisme republican mengambil tema yang dikembangkan dalam pemikiran liberalism terdahulu. Ini adalah pemikiran bahwa demokrasi liberal meningkatkan perdamaian, sebab mereka tidak perang terhadap satu dengan yang lainnya, hal tersebut dipengaruhi oleh penyebaran demokratisasi yang sangat cepat di dunia setelah akhir perang dingin.

Teoritisi masyarakat internasional mengakui pentingnya kekuatan dalam masalah-masalah internasional. Mereka memfokuskan pada Negara dan sistem Negara serta memandang Negara sebagai kombinasi sebagai Negara berkuasa dan Negara konstitusional. Teoritisi masyarakat internasional menegaskan pentingnya kekuatan dan kepentingan nasional. Sistem PBB menunjukan bagaimana kekuatan dan hokum terus menerus hadir dalam masyarakat internasional. Teoritisi masyarakat internasional mengambil pendekatan filsafat, hokum, dan sejarah ang lebih luas bagi Hubungan Internasional. HI adalah tentang melihat dan mengeksplorasi keberadaan semua elemen yang kompleks dan masalah-masalah normative yang mereka munculkan pada pemimpin Negara.

Mengenai Ekonomi Politik Internasional (EPI) yang pada dasarnya membahas tentang siapa mendapatkan apa dalam sistem ekonomi dan politik internasional. Neo marxis merupakan suatu upaya untuk mengaalisis situasi dunia ketiga dengan memakai alat-alat analisis Yang pertamakali dikembangkan karl-Max.Neo markis memperluas analisis tersebut ke dunia ketiga dengan berpendapat bahwa perekonomian kapitalis global yang dikendalikan oleh Negara kapitalis kapitalis kaya dipergunakan untuk memiskinkan Negara-negara miskin. Pandangan kaum liberal atas EPI sangat berbeda dan benar-benar bertentangan. Penstudi EPI liberal berpendapat bahwa kesejahteraan manusia dapat dicapai dengan perluasan capitalism global yang bebas diluar batas Negara berdaulat., dan oleh penurunan signifikansi batas-batas tersebut.

Selalu saja ada aliran-aliran penentang dalam HI , para filosofis dan penstudi yang menolak pandangan-pandangan yang mapan dan mencoba menggantikannya dengan alternative-alternatif. Tetapi dalam beberapa tahun ini aliran-aliran ini semakin meningkat jumlahnya.Dua faktor membantu menjelaskan itu. Berakhirnya perang dingin mengubah agenda internasional dalam hal-hal mendasar. Semakin meningkat jumlah penstudi HI yang menunjukkan ketidakpuasan dengan pendekatan perang dingin yang dominan dalam HI. Banyak penstudi HI sekarang mengambil isu yang dinyatakan waltz bahwa dunia hubungan internasional yang kompleks dapat ditekan kedalam sejumlah pernyataan serupa hokum tentang struktur sistem internasional dan perimbangan kekuatan.

Isu dan metodologi baru yang dikemukakan disini memiliki persamaan , merekamenyadari bahwa tradisi yang mapan dalam HI gagal menguasai perubahan politik dunia pasca perang dingin. Pendekatan baru ini seharusnya dilihat sebagai “aliran-aliran” baru yang mencoba menunjukan arah disiplin akademis HI yang lebih sesuai dengan hubungan internasional pada permulaan millennium baru. Banyak penstudi berpendapat bahwa perdebatan HI keempat telah terbuka lebar ditahun 1990an diantara tradisi-tradisi yang telah mapan disatu sisi dengan aliran-aliran baru ini dilain sisi.

Itulah beberapa teori dan pandangan mengenai perkembangan HI sebagai Subyek akademik. Jikalau ada pertanyaan mengenai teori atau pandangan mana yang terbaik berkaitan dengan perkembangan HI sebagai subyek akademik, maka dengan tegas dikatakan bahwa tidak ada teori yang terbaik, karena semua teori/pandangan-pandangan tersebut adalah baik sesuai dengan perkembangannya. Semua dapat dinilai dari kekoherrensiannya, kejelasan eksposisinya, ruang lingkupnya serta kedalaman teorinya.

Teori-teori tradisional yang terdahulu dan teori-teori alternative merupakan alternative alat-alat analitis dan hirauan-hirauan penting HI kontemporer. Telah kita ketahui bagaiman subjek-subjek tersebut berkembang melalui serangkaian perdebatan antara berbagai pendekatan teoritis yang berbeda. Perdebatan ini dibentuk an dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa bersejarah, serta perkembangan metadologis dalam bidang-bidang keilmuan lain. Tak satupun pendekatan teoritis yang benar-benar menang dalam HI saat ini. Tradisi teoritis utama dan pendekatan-pendekatan alternative tersebut dijalankan secara aktif dan disiplin sekarang ini. Situasi tersebut mencerminkan perlunya pendekatan-pendekatan yang berbeda untuk menangkap aspek-aspek yang berbeda dari kenyataan kontemporer dan sejarah yang sangat rumit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s